Senin, 25 November 2013

Apa yang Mesti Kamu Lakukan Jika di-Bully?

0 komentar

Kamu tidak boleh diam saja jika di-bully, diancam, diintimidasi seperti itu. Memang, tidak mudah melawannya sendiri, bahkan meskipun kamu mendapat dukungan dari teman-teman kamu. Oleh karenanya, kadang satu-satunya cara untuk menghentikan siklus bullying adalah dengan melaporkannya pada orang dewasa atau pihak yang berwenang. Bullying bisa jadi akan terus terjadi jika kamu tidak melakukan hal ini.


Laporkan

Katakan pada guru yang kamu percayai di sekolah. Tak peduli dimana bullying ini terjadi: di sekolah, di luar sekolah, atau di internet, para guru pasti ingin menghentikan bullying jika mereka mengetahuinya.
Ceritakan pada ayah, ibu, paman, saudara atau teman yang kamu yakin mau mendengarmu. Mintalah mereka untuk membantumu mengatasai masalah ini.
Melaporkan pelaku bullying tidak membuatmu jadi loser atau pengecut atau pihak yang lemah. Bullying adalah masalah serius. Dengan melapor, kamu mungkin justru menyelamatkan anak/remaja lain yang akan jadi target bullying selanjutnya.
Catat bukti dan kronologi
Jika serangan bullying dilakukan melalui internet, telepon atau sms, simpan serangan-serangan itu dalam bentuk foto, tulisan, suara, atau file digital (misal print screen). Tunjukkan pada guru, orang tua, atau pihak yang berwajib (polisi).

Selain melapor, kamu bisa juga mencoba beberapa tips berikut ini:
  • Katakan pada pelaku bullying, “Hentikan. Aku tidak mau diperlakukan seperti ini!”
  • Katakan dengan suara yang kuat dan percaya diri. Jika kamu sama sekali tidak merasa kuat dan percaya diri, BERPURA-PURALAH!
  • Bicaralah dengan pelaku bullying (jika menurut kamu ini aman dilakukan). Tanyakan apakah ada masalah yang bisa kalian selesaikan bersama. Jika kamu takut bertatap muka empat mata saja, ajaklah teman.
  • Jika mungkin, acuhkan orang yang mem-bully-mu. Ketika diabaikan, biasanya mereka tidak tertarik lagi mem-bully. Namun apabila ini tidak berhasil, ceritakan pada seseorang dan mintalah bantuannya.
  • Jangan melakukan perlawanan balik dengan kekerasan. Ini sering kali tidak berhasil, dan kamu justru akan terjebak masalah lain.
  • Nikmati kebersamaan bersama orang-orang yang membantu kamu nyaman dan merasa positif dengan dirimu sendiri. Seorang teman tidak akan mem-bully. Teman, peduli padamu dan senang bersama kamu. :)
Stop bullying!
Be strong, be yourself!

 

Dampak Bullying pada Pelaku

0 komentar
Bullying adalah masalah serius yang berdampak traumatis bagi target yang di-bully. Tapi kok bisa, pelaku bullying juga merasakan efek bullying?! Bullying bisa ditujukan untuk menyakiti seseorang secara fisik, secara sosial, dan secara mental/psikologis. Nah, akibat yang dirasakan pelaku bullying adalah pada kerentanan kondisi jiwanya.

Anak/remaja pelaku bullying berkecenderungan terlibat dalam kekerasan perilaku berisiko lainnya saat ia beranjak dewasa. Bentuknya bisa jadi:
  1. Sering terlibat perkelahian
  2. Melakukan aksi vandalisme, merusak fasilitas umum
  3. Penyalahgunaan (dan kecanduan) alkohol dan narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang) di masa remaja maupun ketika dewasa nantinya
  4. Terlibat kegiatan kriminal dan keluar masuk penjara ketika beranjak dewasa
  5. Melakukan aktivitas seksual (terlalu) dini, sebelum waktunya
  6. Melakukan kekerasan pada pasangannya, keluarga atau anak-anaknya (setelah dewasa)
Akibat Bullying bagi yang Menyaksikan
Anak/remaja yang menyaksikan praktek bullying di lingkungannya biasanya:
  1. Terdorong untuk membolos
  2. Terdorong (meningkatkan) penyalahgunaan rokok, alkohol dan obat-obatan lain
  3. Rentan terhadap masalah kesehatan mental, misalnya mudah depresi dan kecemasan berlebihan
Sekarang pembaca tahu, betapa kejamnya bullying ini. Bahkan yang menyaksikan pun terkena pengaruh buruknya. Jangan merasa lega dahulu jika anak/remaja Anda tidak di-bully di lingkungannya. Cek apakah dia pernah menyaksikan praktek bullying atau malahan dia sendiri lah pelaku bullying. Bullying adalah masalah yang sangat serius. Waspadalah! Dan tingkatkan level kewaspadaan Anda pada Cyberbullying.

Sumber : http://infopsikologi.com/dampak-psikologis-pada-pelaku-bullying-yang-menyaksikan/

Betapa Kejamnya Bullying!

0 komentar
Betapa kejamnya bullying, efeknya tidak hanya dirasakan oleh target (seseorang yang di-bully), tetapi juga orang-orang melihat aksi bullying, dan bahkan, para pelaku bullying itu sendiri! Ngeri ya? Yuk kita telusur satu per satu!
 
Efek Bullying pada Target yang di-Bully
Anak/remaja maupun orang dewasa yang menjadi target bullying biasanya akan mengalami gangguan kesehatan fisik, kondisi mental, penurunan prestasi sekolah/kerja, dan pergaulan sosialnya. Wujud nyatanya adalah:
  1. Sakit, mudah sakit dan tidak enak badan
  2. Kehilangan nafsu makan
  3. Semangat belajar menurun, prestasi sekolah/kerja merosot tajam
  4. Tidak bersemangat melakukan kegiatan yang tadinya disukai
  5. Enggan berangkat sekolah/kerja atau jadi sering membolos
  6. Sakit perut berulang
  7. Sakit kepala berulang
  8. Gatal-gatal eksim
  9. Asma akut
  10. Susah tidur atau sering mimpi buruk
  11. Mudah merasa takut
  12. Tidak percaya diri
  13. Muncul keinginan mem-bully sebagai bentuk balas dendam
  14. Pobia Sosial (social phobia),  diantara cirinya adalah takut dilihat/diperhatikan orang, takut diajak bicara, takut berbicara di depan umum, cemas berlebihan sehingga berkeringat berlebihan.
  15. Putus Sekolah (dewasa: berhenti kerja)
  16. Bullycide, bunuh diri karena secara mental telah terganggu parah karena di-bully. Coba cari kisah tentang Amanda Todd di internet, kisah memprihatinkan seorang remaja Kanada target bullying yang akhirnya memutuskan bunuh diri.

Kenali Apa Itu Bullying!

0 komentar
Bullying mencakup sejumlah perlakuan kasar-kejam yang ditujukan pada seseorang atau kelompok tertentu secara berulang-ulang untuk menyakiti perasaan atau fisiknya. Bullying yang dilakukan oleh sebuah kelompok, biasa disebut mobbing. Bullying bisa terjadi dimana saja, di sekolah, di tempat kerja, di dunia maya (internet), dalam pergaulan antar tetangga, bahkan dalam keluarga.

Sejumlah perilaku yang termasuk bullying tergolong dalam 3 bentuk kekerasan, yaitu kekerasan fisik, verbal (ucapan) dan kekerasan emosional. Perilaku-perilaku tersebut diantaranya:
  • Memberikan panggilan yang menghina/menyakitkan pada seseorang atau kelompok, misal: “Hey, anjing buduk!’
  • Perilaku mengancam dan mengintimidasi seperti jalan memepeti, mengacungkan senjata tajam ke arah seseorang. Bahkan pandangan mata pun bisa menyiratkan ancaman
  • Terus menerus mengusik atau mengolok-olok dengan kata-kata kasar
  • Mempermalukan seseorang di depan umum
  • Menyebarkan fitnah atau gosip yang tidak sedap
  • Mengacuhkan, meninggalkan, memperlakukan seseorang atau suatu kelompok seolah tidak ada (eksis) atau tidak penting
  • Memukul, melempari, menyakiti atau menyerang secara fisik
  • Mencuri atau merusak barang milik pribadi atau kelompok tertentu.
Pelaku bullying seringkali menyakiti targetnya dengan mengucapkan hal-hal buruk yang berkaitan dengan berat badan atau fisik tubuh lainnya, keluarga, jenis kelamin, agama, suku atau kebudayaan. Biasanya dilakukan oleh orang-orang yang ingin punya kekuatan (power) dan ingin diakui, kepada mereka yang dianggap ‘berbeda’ (baca: yang dianggap cenderung tidak melawan ketika di-bully).
Menjadi target bullying sama sekali tidak menyenangkan, seringkali membuat kita takut dan sedih. Jika terus menerus terjadi, pada titik tertentu bisa membuat seseorang sangat cemas dan tertekan sehingga mengganggu prestasi belajar dan kondisi psikologisnya. Bullying bisa mengakibatkan trauma dan tekanan jiwa yang berkepanjangan. Ya, karenanya bullying termasuk kekerasan yang tidak bisa ditolerir. Di Amerika, pelaku bullying bahkan bisa dijerat hukum.
Jika kamu pernah mengalami bullying, kamu harus tahu bahwa itu tidak layak untukmu! Tidak ada yang salah dengan dirimu. Para pelaku bullying justru akan senang dan makin menjadi-jadi jika mendapati targetnya merasa tak berdaya atau merasa buruk tentang dirinya sendiri. Ingatlah, mereka hanya bisa merasa hebat saat merendahkan (harga diri) orang lain. Sungguh kasihan sebenarnya, bukan?
Istilah bullying baru-baru ini populer sekali walau sebenarnya sudah sejak dahulu terjadi dimana saja. Di kalangan anak dan remaja Indonesia, bullying mungkin lebih dikenal dengan istilah ‘palak’ atau ‘dipalak’. Ada istilah lain yang kamu tahu?

Sabtu, 23 November 2013

Kenakalan Remaja Atau Kenakalan Orang Tua

0 komentar
Akhir-akhir ini fenomena kenakalan remaja makin meluas. Bahkan hal ini sudah terjadi sejak dulu. Para pakar psikolog selalu mengupas masalah yang tak pernah habis-habisnya ini. Kenakalan Remaja, seperti sebuah lingkaran hitam yang tak pernah putus. Sambung menyambung dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, dari tahun ke tahun dan bahkan dari hari ke hari semakin rumit. Masalah kenalan remaja merupakan masalah yang kompleks terjadi di berbagai kota di Indonesia. Sejalan dengan arus modernisasi dan teknologi yang semakin berkembang, maka arus hubungan antar kota-kota besar dan daerah semkain lancar, cepat dan mudah. Dunia teknologi yang semakin canggih, disamping memudahkan dalam mengetahui berbagai informasi di berbagai media, disisi lain juga membawa suatu dampak negatif yang cukup meluas diberbagai lapisan masyarakat.

Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya. Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi lingkungannya, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri.

Mengatasi kenakalan remaja, berarti menata kembali emosi remaja yang tercabik-cabik itu. Emosi dan perasaan mereka rusak karena merasa ditolak oleh keluarga, orang tua, teman-teman, maupun lingkungannya sejak kecil, dan gagalnya proses perkembangan jiwa remaja tersebut. Trauma-trauma dalam hidupnya harus diselesaikan, konflik-konflik psikologis yang menggantung harus diselesaikan, dan mereka harus diberi lingkungan yang berbeda dari lingkungan sebelumnya. Pertanyaannya : tugas siapa itu semua ? Orang tua-kah ? Sedangkan orang tua sudah terlalu pusing memikirkan masalah pekerjaan dan beban hidup lainnya. Saudaranya-kah ? Mereka juga punya masalah sendiri, bahkan mungkin mereka juga memiliki masalah yang sama. Pemerintah-kah ? Atau siapa ? Tidak gampang untuk menjawabnya. Tetapi, memberikan lingkungan yang baik sejak dini, disertai pemahaman akan perkembangan anak-anak kita dengan baik, akan banyak membantu mengurangi kenakalan remaja. Minimal tidak menambah jumlah kasus yang ada." (sumber Whandi.net/1 jan 1970).

Kenakalan remaja, merupakan salah si anak? atau orang tua? Karena ternyata banyak orang tua yang tidak dapat berperan sebagai orang tua yang seharusnya. Mereka hanya menyediakan materi dan sarana serta fasilitas bagi si anak tanpa memikirkan kebutuhan batinnya. Orang tua juga sering menuntut banyak hal tetapi lupa untuk memberikan contoh yang baik bagi si anak. Sebenarnya kita melupakan sesuatu ketika berbicara masalah kenakalan remaja, yaitu hukum kausalitas. Sebab, dari kenakalan seorang remaja selalu dikristalkan menuju faktor eksternal lingkungan yang jarang memerhatikan faktor terdekat dari lingkungan remaja tersebut dalam hal ini orangtua. Kita selalu menilai bahwa banyak kasus kenakalan remaja terjadi karena lingkungan pergaulan yang kurang baik, seperti pengaruh teman yang tidak benar, pengaruh media massa, sampai pada lemahnya iman seseorang.

Ketika kita berbicara mengenai iman, kita mempersoalkan nilai dan biasanya melupakan sesuatu, yaitu pengaruh orangtua. Didikan orangtua yang salah bisa saja menjadi faktor sosiopsikologis utama dari timbulnya kenakalan pada diri seorang remaja. Apalagi jika kasus negatif menyerang orangtua si remaja, seperti perselingkuhan, perceraian, dan pembagian harta gono-gini. Mungkin kita perlu mengambil istilah baru, kenakalan orangtua.

Orang tua, sering lupa bahwa prilakunya berakibat pada anak-anaknya. Karena kehidupan ini tidak lepas dari contek-menyontek prilaku yang pernah ada. Bisa juga karena ada pembiaran terhadap perilaku yang mengarah pada kesalahan, sehingga yang salah menjadi kebiasaan. Para orang tua jangan berharap anaknya menjadi baik, jika orang tuanya sendiri belum menjadi baik. Sebenarnya nurani generasai ingin menghimbau Jangan ajari kami selingkuh, jangan ajari kami ngomong jorok, tidak jujur, malas belajar, malas beribadah, terlalu mencintai harta belebihan dan lupa kepada Sang Pencipta, yaitu Allah.

Tulisan ini mencoba mengajak merenung bagi para orangtua, bahwa kenakalan tak selalu identik dengan remaja, tapi justru banyak kenakalan yang dilakukan oleh para orangtua (di rumah, di masyarakat, dan di pemerintahan) yang akhirnya juga menjadi inspirasi remaja untuk berbuat nakal. Menyedihkan memang! (sumber O. Solihin)

Sumber : http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Kenakalan%20Remaja%20Atau%20Kenakalan%20Orang%20Tua&nomorurut_artikel=72

Penyebab Terjadinya Kenakalan Remaja dan Cara Mengatasinya

0 komentar
Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).

Faktor internal:
  1. Krisis identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
  2. Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:
  1. Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
  2. Teman sebaya yang kurang baik
  3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Hal-hal yang bisa dilakukan/ cara mengatasi kenakalan remaja:

  1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
  2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
  3. Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
  4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
  5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
Sumber : anneahira.com

Kenakalan Remaja

0 komentar

Kenakalan remaja sering diartikan terjemahan dari juvenile delinquency.  Secara etimologis pengertian juvenile delinquency berasal dari kata juvenile yang berarti anak, dan delinquency yang berarti kejahatan. Jadi secara etimologis juvenile delinquency adalah kejahatan anak. Dari berbagai pengertian tentang kenakalan remaja atau juvenile delinquency dapat disimpulkan bahwa kenakalan remaja atau juvenile delinquency memiliki arti kejahatan yang dilakukan oleh anak remaja. Dengan demikian kenakalan remaja merupakan perbuatan yang melanggar hukum yang dapat dikenai sanksi pidana bagi yang melanggar larangan tersebut. Masa remaja dikenal dengan masa Strom dan Stress dimana terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik dan pertumbuhan psikis yang bervariasi. Masa remaja identik dengan lingkungan sosial tempat berinteraksi, membuat mereka dituntut untuk dapat menyesuaikan diri secara efektif.

Bila aktifitas-aktifitas yang dijalani di Sekolah tidak memadai untuk memenuhi gejolak energinya, maka remaja seringkali meluapkan kelebihan energinya kearah yang tidak positif, dengan melukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dan disebut dengan kenakalan remaja.
Bentuk-Bentuk Kenakalan Remaja
Bentuk-bentuk kenakalan remaja meliputi:
  1. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain: perkelahian, perkosaan, perampokan,       pembunuhan, dan lain-lain. 
  2. Kenakalan yang menimbulkan korban materi: perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, dan lain-lain. 
  3. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di fihak orang lain: pelacuran, penyalahgunaan obat. 
  4. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah mereka.
  5. Kenakalan Remaja Non Kriminal, yang mengalami masalah jenis ini cenderung tertarik pada kesenangan-kesenangan yang sifatnya menyendiri, apatis terhadap kegiatan masyarakat atau sekolah. Remaja ini suka mengasingkan diri, menghindarkan diri dari kegiatan yang menumbuhkan kontak dengan orang lain. Perasaannya sangat peka dan mudah terluka, cepat tersinggung dan membesar-besarkan kekurangannya sendiri, dengan gejala umum sering menyendiri, melamun, apatis tidak bergairah, sangat mudah tersinggung, sangat mudah panik, sangat mudah bingung sehingga cenderung menjadi peminum, pemabuk, penghisap candu, narkotika, menjadi morfinis dan sebagainya, bahkan tega untuk bunuh diri. 
Sumber : http://hukum.unmuhjember.ac.id/index.php/13-berita/11-kenakalan-remaja
 

Little Things Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template